Mulyadi - Kusworo, Alumnus APDN asal Pulau Jawa pilih mengabdi di Papua

Pengabdian Korps Pamong Praja 3 generasi pertama dalam merintis pembangunan di Tanah Papua dan Papua Barat sejak Opleiding School Voor Inlandshe Ambtenaren (OSIBA) sangat luar biasa.
Share it:
Para alumni APDN Jayapura, Dedi Mulyadi, Ikik Kusworo, J.I,Renyaan, Bili W. Jamlean dan Yesaya Udam
Jayapura, Dharapospapua.com – Pengabdian Korps Pamong Praja 3 generasi pertama dalam merintis pembangunan di Tanah Papua dan Papua Barat sejak Opleiding School Voor Inlandshe Ambtenaren (OSIBA) sangat luar biasa.

Pengabdian para pamong di kala itu, banyak memberikan kontribusi positif kepada nusa dan bangsa, khususnya di atas tanah Papua dan Papua Barat (Irian Barat saat itu).

Mereka begitu setia, loyal dan selalu menjunjung tinggi nama baik korps sebagai pejabat pemerintah yang pada tahun 70-an, aspek kehidupan masih dibilang serba sulit.

Namun di masa sulit itulah, para pamong ini mampu mengabdi dengan bekal disiplin ilmu yang mereka dapati saat masih berstatus praja.

Tak terkecuali, salah seorang pamong sejati asal Jawa Barat, Dedy Mulyadi yang memilih mengabdi di negeri paling timur Indonesia ini sejak menyelesaikan pendidikannya yang dirintis dari Kursus Dinas bagian C (KDC) Kementrian Dalam Negeri di Bandung pada 1962.

Bahkan uniknya, ia pernah menjabat sebagai Syahbandar dan Kepala Bandara di Teminabuan yang jauh dari ilmu yang ditimbanya.

"Tahun 1965, saya ditugaskan ke  Irian Barat dalam rangka konsolidasi hasil Trikora, dan saat itu saya  ditempatkan sebagai Kepala Distrik di Teminabuan Papua Barat ( Irian Jaya saat Itu ),sebelum ke Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN)," tutur Dedy mengawali kisahnya.

Sejak ditugaskan sebagai Kepala Distrik hingga menjadi Kepala Pemerintahan Setempat (KPS), Dedy seharusnya menjalani pendidikan di APDN Jayapura pada 1968 terhitung angkatan pertama.

"Tapi waktu itu menjelang Pepera makanya saya tidak bisa meninggalkan tugas," akuinya.

Hal yang sama juga terjadi pada 1971 saat dilaksanakannya Pemilihan umum pertama di seluruh Indonesia, dimana Dedy kembali tertunda untuk memulai studinya di APDN Jayapura.

Keinginan sekolah di APDN Jayapura akhirnya baru terealisasi juga di tahun 1973 bahkan langsung di tingkat II, karena jebolan dari KDC dan SMA di tambah satu tahun setengah.

"Saat itu, saya masuk APDN kampus Yoka dari tahun 1973 sampai 1975 hingga kemudian ditugaskan di Kabupaten Jayapura tepatnya pada Sekretariat DPRD setempat," rinci Dedy.

Pada 1980, ia mendapat tugas belajar ke Institut Ilmu Pemerintahan (IIP) di Jakarta dan tamat pada 1983 kemudian seterusnya bertugas di Kabupaten Fakfak.

Sebagai kepala distrik yang juga seorang pamong praja, dimana pada waktu itu belum ada daerah otonom sehingga tugas-tugas pemerintahan di daerah yang tidak ada petugasnya semuanya dilaksanakan oleh pamong praja.

"Bahkan saya pernah menjabat sebagai Syahbandar maupun Kepala Bandara di Teminabuan," kenangnya.

Lanjut Dedy, saat bertugas sebagai Camat di Teminabuan, situasi ketika itu terbilang gawat.

Namun sebagai seorang Pamong praja sejati, di era itu, dirinya harus berhadapan dengan situasi
apapun bahkan nyawa pun bisa menjadi taruhan.

"Saya belajar menyatu dengan masyarakat setempat sehingga saya pun bebas dari setiap ancaman," tuturnya.

Akhirnya, periode 1984 - 1994, Dedy mulai menjalani tugas di Kabupaten Fakfak yang diawali sebagai Kepala Bappeda setempat.

Sesudah itu, Dedy menjabat sebagai Sekretaris Daerah yang kala itu disebut Sekretaris Wilayah Daerah (Sekwilda) Kabupaten Tingkat II Fakfak.

"Tahun 1994 saya kemudian dipindahkan ke Jayapura dan diangkat menjadi Sekda Kotamadya Daerah Tingkat 2 Jayapura yang pertama," terangnya.

Berselang beberapa waktu, Kota Administratif Jayapura ditingkatkan menjadi Daerah Otonom Baru terpisah dari Kabupaten Jayapura.

"Pada 1997, saya menjadi Sekda pertama hingga kemudian memasuki masa pensiun," ujarnya.

Secara khusus, pada kesempatan itu, sebagai seorang pamong sejati, Dedy mengapresiasi karier yuniornya, DR. Benhur Tomi Mano, MM yang saat ini menjabat sebagai Wali Kota Jayapura.

Ia mengapresiasi kepemimpinan pria yang sering disapa BTM ini karena terus berupaya memajukan Kota Jayapura.

"BTM dalam menjalankan tanggung jawabnya, selalu bersukaria dalam tugas, tekun dalam doa dan mensyukuri segala sesuatu. Untuk itu, saya berharap di sisa masa jabatannya, beliau tetap memajukan Kota Jayapura," harap Dedy.

Ditambahkannya, sebagai seorang pamong praja, ia telah dibekali untuk taat aturan dalam mengambil kebijakan dan yang tak kalah penting, dituntut memiliki kemampuan untuk memajukan suatu daerah.

"Walau saya pernah menjadi pejabat di era 80 - 90an hingga pensiun, saya tidak memiliki kekayaan apalagi simpanan di bank. Tetapi saya kaya akan nama baik sebagai seorang pamong praja sejati," tukasnya.

Inilah bukti seorang pamong sejati yang tentu mengabdi kepada negara dan masyarakat, tidaklah untuk mencari nama atau harta dan kekayaan akan tetapi mereka betul-betul mengadi sebagai seorang pamong sejati untuk melayani masyarakat.

Lain lagi, kisah alumni APDN angkatan ke – VI, 1974 - 1977, Ikik Kusworo.

Dirinya secara tegas memilih mengikuti pendidikan di Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) hanya gara-gara di masa kecilnya, ia merasa tak bahagia. Mengingat pada saat itu, kesempatan untuk sekolah pun sangat sulit.

"Makanya, ketika ada tawaran, saya langsung memutuskan untuk sekolah di APDN dengan alasan bahwa ke depan ada kesempatan untuk melanjutkan studi," ungkap Kusworo.

Tahun 1977, kesempatan itu akhirnya datang. Ia mendapat tugas belajar berpapasan dengan rampungnya studi yang dijalaninya di APDN.

"Ada kesempatan untuk studi lanjut di Universitas Cendrawasih pada tahun itu dimana untuk pertama kalinya mereka membuka program S1," lanjutnya.

Seusai pendidikan, Kusworo kemudian berkiprah pada bidang keuangan di Pemerintah Provinsi Papua hingga 1994.

Ia juga mengisahkan tentang keterlibatannya di partai politik.

Di era itu, Golongan Karya dengan logo khasnya pohon beringin menjadi partai penguasa hingga kemudian muncul pula istilah jalur A, B dan G.

"Jalur B adalah beringin sehingga korps pegawai negeri saat itu adalah bagian dari Golongan Karya," bebernya.

Saat itu, kata Kusworo, dirinya diminta Golkar dan Gubernur pada periode itu Barnabas Suebu, untuk menjadi Bendahara di DPD Golkar Provinsi Papua yang tak mungkin ditolaknya karena hal itu merupakan suatu kehormatan.

"Saya diberikan tanggung jawab sebagai bendahara Golkar dari tahun 1988 - 1998. Bahkan disela-sela itu, dari 1997 - 1999 saya sempat  menjadi anggota DPRD tingkat I Irian Jaya," sambungnya.

Meski berstatus anggota DPRD, Kusworo tetap memilih menjalani studi lanjut S2 dengan dua program yaitu magister pemerintahan dan magister manajemen.

Padahal saat itu, ia diminta untuk memilih apakah tetap menjadi anggota DPRD atau studi lanjut program S2.

Dan ia pun mendapat kesempatan untuk lanjut program S3,  saat berkiprah sebagai Widyaswara.

"Padahal karier saya di Pemerintahan biasa-biasa saja, hanya menduduki jabatan paling tinggi Eselon 3 dan saya hanya menjadi guru pegawai negeri sipil atau Widyaswara. Bahkan karier saya pun berakhir di Widyaswara sampai pensiun pada 2008," bebernya.

Kusworo masih mendapat kesempatan untuk belajar di Universitas Cendrawasih pada program pascasarjana kemudian di IPDN kampus Papua.

Juga masih sempat menyelesaikan studi doktor di Unitar Malaysia hingga menjadi tenaga ahli di DPR Papua.

"Dan sampai hari ini saya masih menjabat sebagai Staf Khusus Gubernur Papua," ungkapnya lagi.
Bahkan tak hanya itu, sesudah pensiun pun dirinya masih diminta untuk menjadi Pembantu Direktur I IPDN kampus Papua.

"Sampai saat ini saya masih tercatat sebagai tenaga pengajar di IPDN kampus Papua serta di IPDN Jatinangor untuk program S1 dan S2," rincinya.

Olehnya itu, kepada adik-adik yunior IPDN, Kusworo berpesan agar di mana pun mereka ditugaskan dapat menerima itu dengan satu kesadaran sebagai suatu wujud pengabdian bagi kepentingan masyarakat.

"Dalam setiap kesempatan usahakan meningkatkan kapasitas dan kualitas diri di bidang keilmuan kita dan jangan pernah menolak untuk ditugaskan di mana saja. Dan bagaimana untuk meningkatkan kapasitas pribadi kita agar kita diterima di tengah-tengah masyarakat," tukasnya

(Har)
Share it:

Utama

Masukan Komentar Anda:

0 comments:

Olahraga